Gempa bumi berkekuatan 7,8 skala Richter baru-baru ini yang terjadi di Suriah dan Turki dan telah menewaskan sedikitnya 1.500 orang dan melukai sekitar 3.000 orang di Suriah.
Sementara itu, nasib ribuan orang yang terjebak di bawah reruntuhan masih belum diketahui. Selain itu, gempa telah membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal di Suriah.
Dalam dua hari terakhir, pemerintah Suriah mengerahkan segala upaya dan fokus membantu korban gempa bumi di negeri ini.
Namun, kondisi Suriah dan Turki untuk menangani dan membantu korban gempa tidak sama. Karena Suriah telah berada dalam kondisi perang dan embargo selama sekitar 12 tahun, tetapi Turki tidak menghadapi kondisi tersebut. Sementara itu, pemerintah Eropa juga memprioritaskan bantuan mereka pada Turki.
Selama 12 tahun terakhir, Suriah terlibat perang dengan teroris yang didukung oleh lebih dari 80 negara. Perang dengan teroris telah menyebabkan kehancuran infrastruktur di Suriah dan jutaan orang mengungsi di dalam negeri ini.
Fasilitas Suriah hampir hancur akibat perang yang telah berlangsung selama 12 tahun terakhir, dan situasi ini menyebabkan pemerintah menghadapi masalah serius dalam membantu korban gempa di negara ini.
Oleh karena itu, pemerintah Suriah dihadapkan pada minimnya fasilitas untuk membantu para korban gempa.
Pemerintah Suriah sibuk memberikan bantuan kepada korban gempa di negara ini, sementara sanksi dan terorisme mempersulit pekerjaan pemerintah.
Padahal kelompok teroris masih ada di dalam negeri dan pemerintah Suriah tidak bisa menggunakan segala fasilitasnya, terutama di bidang militer, untuk membantu para korban gempa.
Selain terorisme, pemerintah Suriah juga menghadapi sanksi dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Sanksi selama dekade terakhir telah menyebabkan kekurangan banyak barang penting, termasuk obat-obatan, di Suriah.
Sanksi yang dijatuhkan Washington terhadap Suriah atas nama hukum Caesar (Caesar Syria Civilian Protection Act) telah menciptakan banyak pembatasan dalam memberikan bantuan kepada negara ini.
Selain itu, embargo obat-obatan adalah kejahatan terbesar yang dilakukan Amerika Serikat terhadap bangsa Suriah, dan dalam situasi kritis ini, sehingga korban gempa tidak diberi akses ke banyak obat penting.
Sementara itu, sanksi tidak memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Suriah.
Joe Biden, Presiden Amerika Serikat yang bertentangan dengan kebiasaan internasional, bahkan tidak mengungkapkan solidaritas secara lisan kepada rakyat Suriah dalam bencana besar yang menimpa mereka, menulis dalam sebuah tweet, Saya meminta semua lembaga terkait kami untuk berkoordinasi dengan Turki untuk mengatasi situasi korban gempa. Ikuti dengan cermat dan berikan semua bantuan yang diperlukan.
Mempertimbangkan kondisi tersebut, Faisal Mekdad, Menteri Luar Negeri Suriah mengatakan dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Al-Mayadeen tentang gempa besar ini, "Bencananya besar. Yang membuatnya lebih dalam adalah bahwa Suriah sedang berperang melawan terorisme dan para pendukungnya. Sanksi juga meningkatkan keparahan bencana ini. Sanksi Amerika telah membuat Suriah kehilangan segalanya, bahkan untuk membeli obat."(sl)